Konflik
yang terjadi antara Ukraina dan Rusia menjadi pembahasan negara di seluruh
dunia. Sebenarnya Penyebab konflik Rusia-Ukraina ini sudah ada sejak dulu dan
yang paling besara terjadi sekarang. Sebetulnya apa yang terjadi sehingga konflik Rusia dengan Ukraina
bisa terjadi? Berikut penjelasannya.
Pada kamis 24 Februari 2022 pagi presiden Rusia Vladimir Putin
mengumumkan invasi ke Ukraina. Setelah selang beberapa menit tembakan rudal ke
berbagai kota di Ukraina terjadi. Presdien Rusia mengklaim jika invasi ini
dilakukan hanya untuk menjaga perdamain di 2 wilayah Ukraina yaitu Luhansk dan
Donetsk yang memisah diri sebagai negara merdeka baru. Hal ini memicuberbagai
reaksi dunia dan bahkan berpotensi terjadi perang dunia ke 3.
Hal ini terjadi semua berawal dari sekitar 1500 tahun yang lalu,
diman negara seperti Rusia, Belarus dan Ukraina memiliki 1 akar kebudayaan yang
sama yakni bangsa Slavik yang memiliki pusat di Kievas Rus, yang mana sekarang
adalah Ukraina.
Singkat waktu wilayah ini menjadi Uni Soviet dimana setelah Perang Dunia ll, merupakan salah satu kekuatan tempur terkuat dunia dengan paham komunisme. Disisi lain pihak sekutu seperti Amerika Serikat, Canada dan negara2 Eropa membentuk NATO (North Atlantic Treat Organization) pada 1949 yang bertujaun menjaga keamanan khusunya Eropa Barat jika Uni Soviet menyerang Eropa. Dari sinilah munculnya Blok Barat dan Blok Timur dan dimulai perang ideologi yang dikenal sebagai Perang Dingin selama berpuluh-puluh tahun.
Kemudian pada tahun 1991 perang dingin berakhir dengan pecahnya Uni Soviet menjadi 15 Negara, diantaranya Russia dan Ukraina. Banyak yang kecewa dan menyayangkankan lepasnya Ukraina ini karena bangsa Rusia sendiri muncul dari Kiev kenapa sekarang kota itu bukan bagian dari negara Rusia. Salah satu nya adalah seorang intelejen muda yang bernama Vladimir Putin. Hingga suatu saat Putin berhasil mengumpulkan kekuatan, memiliki karir yang gemilang di perintahan hingga menjadi Presiden Russia. Sehingga hasrat untuk menyatukan kembali Ukraina ke Rusia ini masih ada di diri Putin hingga sekarang.
Baca Juga: Presiden Ukraina Kecewa Karena Dibohongi NATO
Kemudian pada tahun 2004 terjadi Revolusi Orange dimana rakyat Ukraina ingin Ukraina menjadi negara yang berdaulat sendiri tanpa bayang-bayang Rusia, dari sinilah Ukraina mulai condong ke barat (NATO). Hingga tahun 2010 Pemimpin oposisi Victor Yanukovych yang pro-Rusia terpilih menjadi Presiden Ukraina. Yanukovych ini benar-benar memutus hubungan Ukraina dengan AS dan NATO. Hal ini menyebabkan rakyat Ukraina tidak senang dan melakukan revolusi lagi pada 2014. Kekosongan kekuasaan ini dimanfaatkan oleh Russia dengan mencaplok daerah Crimera dan mendukung gerakan kelompok separatis di Ukraina timur.
Kemudian pada tahun 2019 presiden terpilih Volodymyr Zelensky yang anti rusia dan menyatakan keberpihakan Ukraina terhadap NATO dan negara-negara barat. Zelensky juga menyatakan keinginan Ukraina untuk bergabung dengan NAT0, hal ini tentu disambut baik oleh NATO karena merupakan salah satu keuntungan buat blok Barat kelompok NATO. Bagaiman tidak karena kalau Ukraina bergabung dengan NATO, mereka bisa saja membuat pangkalan militer di Eropa Timur. Hal ini jelas mengancam keamanan bagi negara Rusia sehingga ini membuat Rusia semakin marah dan semakin berhasrat untuk menguasai Ukraina.
Semoga bermanfaat
......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar