Hari
rabu terakhir pada bulan Safar dalam hitungan Hijriyah atau yang dikenal di
kalangan masyarakat adalah Rebu Wekasan yang mayoritas masyarakat meyakini hari
tersebut adalah hari turunya bala’.
Dalam
Al Quran disebutkan terdapat hari naas terus-menerus. Mengutip dari media NU menjelaskan
tentang rebu wekasan, Imam Nawawi al Bagawi dalam tafsir ma’ alim al- Tanzil menyebutkan
(fi yawmi nahsin mustammir)
bertepatan pada hari rabu terkhir ada bulan Safar.
Istilah yang popular dikalangan masyarakat
itu yang dikenal hari naas juga terdapat dalam Hadist Nabi SAW. Rasulullah
bersabda, "Akhiru Arbi’ai fi al-syahri yawmu nahsin mustammir (Rabu
terakhir setiap bulan adalah hari sial terus)."
Sementara itu, Syekh Abdul Hamid Quds, dalam
kitabnya Kanzun Najah Was-Surur fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur, menjelaskan
bahwa banyak para Wali Allah yang mempunyai pengetahuan spiritual yang tinggi
(kasyaf) mengatakan bahwa pada setiap tahun, Allah swt menurunkan 320.000 macam
bala bencana ke bumi dan semua itu pertama kali terjadi pada hari Rabu terakhir
di bulan Safar. Oleh
sebab itu ulama mengisyaratkan untuk sholat Sunnah mutlak dengan tatacara yang
sudah dijelaskan oleh para ulama salaf.
Dengan keyakinan masyarakat yang sudah mendaging Rebu wekasan
atau hari rabu terkhir di bulan safar sebagai hari bala’ justru ini membuka
pintu bala’ itu sendiri. Karena hal itu semua sudah jelas dalam hadist qudsi
yang bebrbunyi : "Aku (Allah) sesuai
persangkaan hambaku tentang diriku." (Muttafaq ‘Alaihi)
Namun terlepas hari rabu terkhir di bulan
safar sebagai turunnya bala, Rabu juga diyakini sebagai hari berkah. Sebab,
sebagaimana disebut dalam hadits, bahwa cahaya diciptakan Allah swt pada hari
Rabu. “Allah Yang Maha Agung menciptakan tanah di hari Sabtu,.. dan
menciptakan cahaya di hari Rabu...” (HR. Muslim)
Maka dari itu kita sebagai ummat muslim yang sudah mempunya
pegangan agar selalu meyakini dan selalu semua hari itu baik tergantung
bagaimana kita berprasangka pada hari itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar